" DEDE YUSUF - LAKSAMANA , BEKERJA SEPENUH HATI"

Senin, 16 Januari 2012

Ge(li)mpungan? - EDITORIAL PUSHINK


EDITORIAL
 
Ge(li)mpungan?

Di level praktis, demokrasi merupakan sebuah sebuah sistem pasar. Penguasaan pasar; yakni pasar dalam artian publik, adalah rintis, bahkan kunci bagi diraihnya kekuasaan.

Tentunya, siapapun di Purwakarta, saat ini mafhum untuk jangan coba-coba datang ke ruang birokrasi pada hari-hari berselang sehubungan rutinan 2 hari per tiap minggu yang dengan keras kepala terus berjalan sejak awal tahun 2011. Jika ditambah dengan jumsih yang sebelumnya merupakan hari sepeda raya, maka lengkaplah sudah. 3 hari kerja gedung-gedung pemerintahan senyap. Tak ada pelaku keputusan di level OPD mengingat hanya sedikit saja punggawa-punggawa birokrasi bereselon yang masih loyal aturan dan masih setia akan tupoksi administratifnya untuk tetap tinggal di ruang kerjanya dan baru akan ke luar lapangan manakala itu relevan dengan kebutuhan masyarakat. Begitu senyap, dan begitu stagnan dari kegiatan pembangunan dan pelayanan publik.

mangga we raraoskeun heula teu damangna, margi SKTM teu acan katawis, pa kepala na oge nuju ge(li)mpungan”, (Atawa) :

Tenang aja de, kerja mah taun depan juga masih bisa. Habis gimana kartu kuningnya nggak bisa ditunggu sekarang. Pa Kepalanya lagi ge(li)mpungan”

Sudah sedemikian parahkah kinerja birokrasi serta saluran perwakilan yang ada (DPRD) dalam pandangan dan diskreditasi kepala daerah, sehingga yang bersangkutan merasa (ingin dan) perlu diabring-abring ke tengah masyarakat? –Absurd; apalagi konon direncanakan, bahwa model abring-abring ini dipandang mendesak untuk dilakukan paling tidak sampai 2013, teng!)

Pijakan model abring-abring diskreditatif toh telah amat jelas :
1.      (konon) musrenbang tidak berjalan;
2.     (konon) reses tidak efektif;
3.      (konon) birokrat enggan ke lapangan;
4.     (konon) dewan berjarak dengan publik;
5.     (konon) hibah bansos efektif melalui itu;

Maka itulah, (k-o-n-y-o-n) satu-satunya model paling mutakhir dan terefektif adalah GE(LI)MPUNGAN....,
 –Kelak para guru pun akan didorong untuk meninggalkan gedung sekolahnya dan mulai mengajar murid dengan cara ge(li)mpungan.

Kuantifikasi, memang merupakan paradoks dari terapan demokrasi. Ia hantu menakutkan bagi setiap politisi. Sehingga diakui atau tidak, ketimbang memikirkan suatu drafting atau grand design perencanaan program ke depan, mayor politisi lebih senang mengutak-atik kalkulator guna menghitung probabilitas posisional dan potensialitas suara. Untuk publik, orasi sajalah. Dengan catatan, seluar biasa mungkin. Namun tetap fardhu ‘ain, untuk seambigu mungkin,

Dan di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal tidaklah mereka itu beriman.” (Al-Baqarah:9)

Parahnya, bakteri patologis kuantifikasi tersebut mengidapi pula para politisi yang sudah menduduki posisi jabatan publik. Melalui prognosis, indikasinya sama. Yakni, ketimbang menanggung jawabi amanat melalui pelahiran karya, lebih baik menyi-apkan modal dan kalkulator demi pengamanan ke depan.

14 tahun sudah reformasi, dan publik masih tetap diharap maklum.., ge(li)mpungan di tengah publik yang kelimpungan.

--dari Redaksi--