" DEDE YUSUF - LAKSAMANA , BEKERJA SEPENUH HATI"

Senin, 16 Januari 2012

HITAM – PUTIH TOTEMISME / EDITORIAL PUSHINK


EDITORIAL
 

HITAM – PUTIH TOTEMISME

The idol of the cave, merupakan istilah filsafat Baconian yang digunakan untuk mengkla-sifikasi pikiran yang dibekap oleh dunia nilai bawaan yang intens diterima dan membentuk individu semenjak kecil. Pikiran yang tak lagi mampu obyektif akibat terkurung dalam goa (cave) dunia nilainya sendiri.

Jauh hari sebelumnya Al-quran telah memak-sudkan model pikiran tersebut sebagai: “sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta itu, ialah hati yang di dalam dada.” (QS 22:46)

Lepas dari keluhuran filosofi nilai di dalamnya, budaya; dengan turunannya berupa tradisi, adalah salah satu bentuk dari idola pengurung dimaksud. Bagi individu terkurung, eksistensi mulia dari nilai budaya kerap tiada, tereduksi oleh kecenderungan identifikasi diri berlebih pada atribut-atribut formal daripadanya. Hamba dunia atribut, tak lagi mampu meng-elaborasi tataran nilai yang sesungguhnya.

Tipologi idols, dapat dikatakan sebagai tipo-logi manusia non rasional yang memandang dunia dalam watak nilai yang serba hitam-putih. Ibarat film india. Jika tipe ini penyuka wayang, maka bisa ditebak bahwa dengan kehitamputihannya ia akan menjadi pemuja keluarga pandawa lima. Dunia nilainya adalah Arjuna, Bima, Gatotkaca, atau mungkin Kresna; “sangkuni”-nya pandawa. Tak ada tempat bagi kemuliaan dan keksatriaan Bisma Dewabrata, Kumbakarna atau Adipati Karna. Sungguh, sangat bisa ditebak.

Totemisme, ikonoklasme, umumnya merupa-kan ujung dari sebuah benak dimana pola pikir hitam-putih berfestival di dalamnya. Berhala atribut adalah bagian terpenting sebagai  alat eksist bagi jati diri super-ego yang telah men-capai tahap paranoia. Neurosis, 

Sebaliknya, dalam islam, uswatun hasanah-lah yang dianggap penting. Suri tauladan, ahlak, tindakan nilai, bukan tempelan atribut. Nan arif berkata “bukan dari luar, tetapi dari dalam”. Dari tindakan itulah, karena luaran bukanlah tindakan.

Rasulullah SAW diriwayatkan, tidak jadi merajam seorang pezinah mengingat saat itu ia tengah mengandung. Ditundanya hingga ia melahirkan dan ditundanya lagi hingga waktu sapih, sampai akhirnya beliau memintakan ampunan dan melepas persoalannya kepada Allah SWT. Kebenaran, tidaklah hitam putih!

Khalifah Umar bin Khattab ra. tidak jadi me-motong tangan si pencuri mengingat ternyata ia dan keluarganya menderita kelaparan. Beliau malah menangis, mengingat laparnya publik, baginya merupakan tanggung jawab pemimpin. Salah, pun tidaklah hitam-putih!

Itulah sebabnya, kenapa Sri Sultan DIY, juga Joko Wi walikota surakarta, yang dua-duanya produk asli keraton dan menerima didik budaya sampai ke akar-akarnya, tak pernah berblangkon, berkeris, berhitam-hitam, atau berhitam putih di depan publik, terkecuali dalam acara resmi keraton. Semua disebab-kan karena mereka mengerti bahwa elaborasi nilai dalam bentuk tindakan njawi, ngabdi dalem pada publik, lebih penting ketimbang atribut pakaian, pagar atau patung. Mereka tak berjiwa totem.

Jikapun patung memaksa, Kapten Halim, Baing Yusuf tentu lebih mengakar dalam histori Purwakarta? 361 sakola, 192 Kalurahan /desa, OPD-OPD, gang-gang oge jalan, dikali biaya pager kahuripan, ditambah saragam, gempungan, jsb. –Wah miceurik diri, sing sabar wae nya urang Purwakarta, duka tos sabaraha M nu diangge cucumah nafsu nu migusti diri?

Sumun, bukmun, umyun....
-- Redaksi--